Salam sejahtera bagi semesta. Dalam artikel ini saya akan membahas secara ringkas mengenai ilmu tasawuf dan hal-hal yang berkaitan dengannya. 

Ilmu Tasawuf : Al-muqadimah

Ilmu Tasawuf. Manusia adalah makhluk yang sangat unik dan kompleks. Semua aspek tentang kebutuhan manusialah yang membuat kehidupan di dunia ini terus berjalan dari awal hingga kelak. Dari ukuran terkecil yang ada dalam tubuh manusia bisa menjadi area bisnis yang sangat besar.

Contohnya seperti ketombe. Akibat dari kehadiran ketombe di atas kepala manusia, maka kegiatan bisnis besar seperti pabrik shampo bisa berjalan.

Berapa juta manusia dengan berbagai gelar akademiknya, dengan berbagai selera hidupnya, dan dengan berbagai latar belakangnya bersatu padu setiap detiknya dalam satu tujuan utama. Yaitu menyikapi keberadaan ketombe.

Berapa juta manusia yang mendapatkan pekerjaan dan kemudian berkegiatan setiap detiknya. Dengan beragam kebutuhan hidupnya, beragam pembayarannya, dan beragam perbedaan lainnya.  

Berapa terori ilmu sains, berapa perangkat teknologi yang digunakan dalam proses ini. Dengan berbagai latar belakang penyusunannya, dengan berbagai latar belakang keterciptaannya. Sains dan teknologi bersatu padu tiap detiknya dalam kegiatan ini.

Mereka semua, yaitu manusia, sains dan teknologi bergerak dalam sebuah sistem terpadu. Mereka patuh  terhadap sistem tersebut agar tidak terjadi kesalahan sedikitpun.

Semua itu terjadi karena kehadiran suatu entitas sangat kecil yang hampir sebesar debu. Yang dinilai oleh pengetahuan mereka dapat mengganggu kenyamanan hidup mereka. Entitas sangat kecil itulah yang dikenal dengan istilah ketombe.

Ilmu Tasawuf : Adakah lainnya ?

Kecerdasan-kecerdasan manusia berkembang dan saling bersatu padu dalam menyikapi sesuatu yang dapat mengganggu kesehatan tubuh jasadi mereka. Sekecil apapun itu.

Lalu bagaimana dengan sesuatu yang dapat  mengganggu kesehatan jasad ruhani, apakah kecerdasan-kecerdasan manusia juga menciptakan teknologi untuk menyikapinya ? Jawabannya adalah Ya. Manusia dengan kecerdasannya telah menciptakan suatu ilmu pengetahuan untuk menyikapi hal tersebut.

Ilmu pengetahuan itu dikenal dalam berbagai nama dan istilah sesuai dengan bahasa dan budaya dimana manusia menciptakan ilmu pengetahuan tersebut. Ilmu ini dikenal dengan sebutan tasawuf, hikmah, irfan, kabuhunan, kabuyutan, mysticism, spirituality, dan lain-lain. 

Untuk membahas  semua tentang hal yang tersebut di atas tidaklah cukup satu atau dua bahkan puluhan artikel. Artikel kali ini akan dikhususkan untuk membahas mengenai ilmu pengetahuan yang dikenal dengan sebutan Tasawuf. Lebih khususnya lagi dalam dunia kajian agama Islam.

Ilmu Tasawuf Adalah

Mengenai apa itu tasawuf, dari dahulu hingga kini perdebatan mengenai hal tersebut belumlah usai. Saya dalam artikel ini akan fokus pada pembahasan Tasawuf secara global dan tidak akan menyelam terlalu dalam.

Jadi saya tidak akan mengutip segala macam perdebatan yang telah dan sedang ada dalam dunia tasawuf sekarang.

Mengenai pembahasan seperti itu, akan ada pada bahasan-bahasan per-bab secara terperinci. Mudah-mudahan nanti pada artikel-artikel berikutnya.

Ilmu Tasawuf Menurut Bahasa

Hingga sekarang tasawuf menurut bahasa pun perdebatannya belumlah usai. Untuk menghindari artikel terlalu panjang, saya akan kutipkan arti menurut bahasa yang biasanya dipakai dalam kajian-kajian tasawuf saja.

١. تصوّف الشّخص:  صار صُوفيًّا واتبَّع سُلوكَ الصُّوفيّة وحالاتهم .
المعجم: عربي عامة

Tashawuf Asy-syahshi ; menjadi seorang sufi dan mengikuti jalan-jalan dan prilaku kesufian.

٢. تَصَوَّفَ فلانٌ : صَار من الصوفيَّة .

المعجم: المعجم الوسيط

Tashawwafa Fulaan; menjadi bagian dari kesufian. (Mu’jam Al-wasiith)


٣. تَصَوُّفٌ :
[ ص و ف ]. ( مصدر تَصَوَّفَ ). :- دَخَلَ الشَّيْخُ مَرْحَلَةَ التَّصَوُّفِ :- : التَّعَبُّدِ وَالتَّزَهُّدِ وَالابْتِعَادِ عَنْ مُخَالَطَةِ النَّاسِ . :- التَّصَوُّفُ يَكُونُ بِالْمُجَاهَدَةِ وَقَطْعِ الشَّهْوَةِ :- ( الغزالي ).

المعجم: الغني

Tashawwufun: mashdar dari kata tashwwafa: Syaikh memasuki tempat kesufian : untuk ta’abud, tajahud, dan menjauhi keramaian. Dan menurut Al-ghazali At-tashawwuf itu mujahadah dan mengendalikan syahwat. (Al-ghaniy)

٤. تصوُّف :  تصوُّف :-

– ( الفلسفة والتصوُّف ) طريقة في السّلوك تعتمد على التقشُّف ومحاسبة النفس ، والانصراف عن كلّ ما له علاقة بالجسد والتَّحلِّي بالفضائل ؛ تزكية للنَّفس وسعيًا إلى مرتبة الفناء في الله تعالى إيمانًا بالمعرفة المباشرة أو بالحقيقة الرُّوحيّة .

Tashawuf : Falsafah Tasawuf, suatu thariqah dalam banyak suluk yang konsisten dalam mengendalikan dan mengorganisasi An-nafs. Dan memalingkan an-nafs dari tiap hal yang dapat mengakibatkan kergantungan  an-nafs terhadap jasad.

Dan menerapkan keutamaan-keutamaan terhadap an-nafs. Konsisten dalam proses pembersihan an-nafs. Bersemangat dalam menuju martabat fana’ fillahi ta’ala. Beriman dengan makrifat dan mubasyarah atau dengan hakikat ruhiyah.

علم التَّصوُّف : ( الفلسفة والتصوُّف ) مجموعة المبادئ التي يعتقدها المتصوِّفةُ والآداب التي يتأدّبون بها في مجتمعاتهم وخلواتهم .
المعجم: اللغة العربية المعاصر

Ilmu Tasawuf: (falsafah/filsafat dan tasawuf) sekumpulan prinsip yang percaya padanya para mutashawif. Dan sekumpulan adab-adab yang beradab dengannya para mutashawif dalam setiap perkumpulannya dan khalwatnya.


٥. تصوَّف :


تصوف – تصوفا
1 – تصوف : صار « صوفيا »، أي متزهدا متعبدا .

2 – تصوف : تخلق بأخلاق الصوفية .
المعجم: الرائد

Tashawwaf – Tashawufan

  1. Tashawwaf : menjadi (seorang sufi), yaitu konsisten berada dalam kezuhudan dan peribadahan.
  2. Tashawaf : berakhlak dengan akhlak sufi

٦. التَّصوُّفُ:

 

التَّصوُّفُ : طريقة سلوكية قوامها التقشف والتحلي بالفضائل ، لتَزْكُوَ النفسُ وتسموَ الروح .

At-tashawwufu

At-tashawwufu: thariqah kesulukan yang menegakan pengendalian dan analisisnya atau pengonsepan thariqah kesulukannya dengan keutamaan-keutamaan, untuk konsisten dalam membersihkan an-nafs dan meninggikan ar-ruh.

 

Ilmu Tasawuf Menurut Istilah

Sama seperti arti kata tasawuf menurut bahasa, hingga sekarang tasawuf menurut istilahpun perdebatannya belumlah usai. Maka untuk menghindari artikel terlalu panjang, saya akan mengutipkan arti menurut istilah yang biasanya dipakai dalam kajian-kajian tasawuf saja.

وأما تسميتهم بالصوفية فقالت طائفة: “إنما سموا صوفية لصفاء أسرارهم، ونقاء ءاثارهم”.

Mengenai penamaan mereka dengan sebutan sufi, maka telah berkata sebagian dari para ahli :

“Sesungguhnya mereka disebut sufiyah karena keshafa-an (kemurnian) rahasia-rahasia mereka, dan kemurnian jejak-jejak/kemuliaan mereka”


وقال ءاخرون: “إنما سموا صوفية لقرب أوصافهم من أوصاف أهل الصفة الذين كانوا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، فمن باطنهم الموصوف بالصفاء، ومن لبسهم وزيهم سموا صوفية، لأنهم لم يلبسوا لحظوظ النفس ما لان مسه وحسن منظره، وإنما لبسوا لستر العورة، فاكتفَوا بالخشن من الشعر والغليظ من الصوف”.

Dan berkata sebagian lainnya:

“ Sesungguhnya mereka disebut sufiyah karena dekatnya sifat-sifat mereka dengan ahlu suffah. Yaitu mereka yang ada pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang bathin mereka disifati dengan kemurnian, berpakaian, dan berhias dengan kemurnian tersebut, maka mereka disebut sufiyah. Karena sesungguhnya mereka tidak berpakaian  dengan kecenderungan an-nafs, juga bukan untuk pamer. Mereka berpakaian untuk menutup aurat. Maka mereka mencukupkan diri dengan memakai pakaian yang terbuat dari dari bahan-bahan yang kasar dan yang tebal. (Artinya walaupun  pakaiannya dari bahan-bahan yang murah, yang tidak bisa dibuat pamet, asal dapat menutup aurat maka itu sudah cukup bagi mereka)”.


ثم هذه كلها صفة أهل الصفة الذين كانوا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فإنهم كانوا غرباء فقراء مهاجرين، أخرجوا من ديارهم وأموالهم ووصفهم أبو هريرة وفضالة بن عُبيد فقالا: “يَخِرُّون من الجوع حتى تحسبهم الأعراب مجانين”، وكان لباسهم الصوف فلما كانت هذه صفة أهل الصفة في حالهم وزيهم سموا صوفية وصُفية، وسماهم قوم فقراء، لأن أحدهم لا يملك شيئًا وإن ملكه بذله وذلك لتخليهم من الأملاك.

Kemudian kesemuanya itu adalah sifat dari Ahlu Suffah yang ada pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mampu dari golongan Muhajirin.

Mereka telah meninggalkan negeri-negeri dan harta-harta mereka. Abu Hurairah dan Fadhalah bin ‘Ubaid menyebutkan sifat-sifat mereka:

“Mereka orang-orang yang kelaparan, sehingga masyarakat arab pada waktu itu menyangka mereka adalah orang-orang gila”. Dan pakaian mereka adalah wol. Pada waktu itu begitulah sifat ahli sufah. Karena gambaran mereka dan pakaian mereka seperti itu mereka kemudian disebut sebagai suufiyah atau sufiyah. Dan mereka juga dikenal dengan sebutan kaum fuqara’. Karena sebagian dari mereka ada yang tidak mempunyai apapun. Keadaan mereka seperti itu karena mereka telah menyerahkan apapun yang mereka miliki”. 

Tasawuf mengkaji mengenai maqam Ihsan, sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam hadits:

وحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، جَمِيعًا عَنِ ابْنِ عُلَيَّةَ، قَالَ زُهَيْرٌ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ أَبِي حَيَّانَ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ جَرِيرٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَارِزًا لِلنَّاسِ، فَأَتَاهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولُ اللهِ، مَا الْإِيمَانُ؟ قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكِتَابِهِ، وَلِقَائِهِ، وَرُسُلِهِ، وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْآخِرِ»، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْإِسْلَامُ؟ قَالَ: «الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ، وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ» قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْإِحْسَانُ؟ قَالَ: «أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهَ، مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: ” مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ، وَلَكِنْ سَأُحَدِّثُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتِ الْأَمَةُ رَبَّهَا، فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا، وَإِذَا كَانَتِ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ، فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا، وَإِذَا تَطَاوَلَ رِعَاءُ الْبَهْمِ فِي الْبُنْيَانِ، فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ تَلَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {إِنَّ اللهِ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ} [لقمان: ٣٤] ” قَالَ: ثُمَّ أَدْبَرَ الرَّجُلُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رُدُّوا عَلَيَّ الرَّجُلَ»، فَأَخَذُوا لِيَرُدُّوهُ، فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ لِيُعَلِّمَ النَّاسَ دِينَهُمْ»

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin  Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, semuanya dari Ibn ‘Ulayah, Zuhair berkata: telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim, dari Abi Hayan
dari dari Abi Zur’ah bin ‘Amru bin Jarir dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kalian bertanyalah kepadaku’. Namun mereka takut dan segan untuk bertanya kepada beliau.

Maka seorang laki-laki datang lalu duduk di  hadapan kedua lutut beliau, laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun,  mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar.’

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan serta beriman kepada takdir semuanya’. Dia berkata, ‘Kamu benar’.

Lalu dia bertanya lagi,  ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada  Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ Dia berkata, ‘Kamu benar’.

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Tidaklah orang yang ditanya tentangnya lebih mengetahui jawaban-Nya daripada orang yang bertanya, akan tetapi aku akan menceritakan kepadamu tentang tanda-tandanya; yaitu bila kamu melihat hamba wanita melahirkan tuan-Nya. Itulah salah satu tanda-tandanya.

(Kedua) bila kamu melihat orang yang tanpa alas kaki  telanjang, tuli, bisu menjadi pemimpin (manusia) di bumi. Itulah salah satu tanda-tandanya.

(Ketiga) apabila kamu melihat penggembala kambing saling berlomba tinggi-tinggian dalam (mendirikan) bangunan.

Itulah salah satu tanda-tandanya dalam lima tanda-tanda dari  kegaiban, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, ” kemudian beliau membaca: ‘(Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.

Dantiada  seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakan-Nya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal) ” (Qs. Luqman: 34).

Kemudian laki-laki  tersebut bangun (mengundurkan diri), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: “Panggillah dia menghadapku! ‘ Maka dia dicari, namun mereka tidak mendapatkan-Nya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Laki-laki ini  adalah Jibril mengajarkan kepada manusia tentang agamanya.”(Shahih Muslim, Muslim bin Hajaj, Juz. 1, hlm. 39, hadits. 9, penerbit. Darul Ihya’ Turats Al-‘arabi, Beirut) 

Pada maqam Iman dikaji mengenai aqidah, dalam maqam Islam dikaji mengenai fiqih, dan pada maqam Ihsan dikaji mengenai kemurnian peribadahan dan pengabdian terhadap Yang Maha Kuasa.

Dalam tasawuf dikaji agar manusia sampai kepada derajat ihsan, yaitu detajat dimana manusia selalu merasakan kehadiran Yang Maha Agung.

Sehingga ketika manusia sedang beribadah, maka manusia tersebut merasa bahwa Yang Maha Kuasa berada dihadapannya dan dia menyaksikan keberadaan tersebut.

Jika tidak bisa sampai derajat tersebut setidak sampai kepada kesadaran bahwa Tuhan selalu mengawasi setiap gerak langkahnya.

Jika manusia sudah sampai kepada derajat Ihsan maka setiap rasa, lisan, dan geraknya akan selalu terjaga dari segala kemaksiatan yang disengaja.

Berbagai Mazhab Tasawuf

Dalam kajian apapun pada setiap zaman dalam kehidupan manusia selalu terjadi adanya perbedaan pendapat atau perbedaan metode dalam mewujudkan ‘produk’ dari kecerdasannya. ‘Produk’ dari kecerdasan manusia dalam dunia kajian fiqih islam disebut fatwa.

Proses untuk mewujudkan ‘produk’ tersebut dikenal dengan sebutan istinbath. Konsep yang menjadi sistem dari teori-teori pewujudan ‘produk’ disebut ijtihad. Para ilmuwannya disebut mujtahid. Para pengikutnya dikenal dengan sebutan muqallid. Dan pusat dimana para mujtahid berkumpul dikenal dengan sebutan mazhab.

Dalam kajian fiqih Islam dikenal banyak mazhab seperti mazhab Ja’fari, Hanafi, Maliki, Hambali, Syafi’i, Zahiri, Tsauri, dan lain-lain.

Seperti dalam kajian ilmu fiqih, dalam dunia kajian tasawuf juga terdapat banyak mazhab. Mazhab dalam tasawuf dikenal dengan sebutan thariqah. Sedangkan ilmuwannya disebut sebagai Sufi, mursyid, murrabi, dll. ‘Produknya’ dikenal dengan sebutan aurad, wafaq, dzikr, wirid, hizb, dan istilah-istilah lainnya.

Prosesnya untuk mewujudkan ‘produknya’ dikenal dengan sebutan riyadhah, suluk, khalwat, dll. Para pengikutnya disebut salik, murid, mursyad, dll.

Di mana tiap-tiap thariqah mempunyai seni, teori, metode, dan ‘teknologi’ masing-masing dalam kajian bertasawufnya.

Beberapa thariqah yang terkenal di dunia menurut data dari Islam.uga.edu dan Marefa.org adalah: Thariqah Malamatiya, Yasawiya – Ahmet Yasawi , Kubrawiya (and Oveyssi)- Najm al-Din Kubra, Qadiriya – ‘Abd al-Qadir Jilani, Rifa’iya – Ahmet Rifa’i, Mevleviye – Jalal al-Din Rumi, Bektashiye – Haji Bektash Veli, Naqshbandiya – Baha’ al-Din Naqshband, Ni’matallahiya – Shah Ni’matallah Vali, Bayramiye – Haji Bayram Veli, Chishtiya – Mu’in al-Din Chishti, Shadhiliya – Abu al-Hasan al-Shadhili, Khalwatiya – ‘Umar al-Khalwati, Tijaniya – Ahmad al-Tijani, Muridiyya – Ahmadu Bamba, Qalandariya, dan masih banyak lagi. Pembahasannya memerlukan artikel tersendiri.

Apa saja yang dipelajari dalam tasawuf ?

Mengenai apa saja yang dipelajari dalam tasawuf itu pun sangat luas pembahasannya.

Walaupun sangat luas kajian ilmu Tasawuf berpusat kepada 3 (tiga) atau 4 (empat) induk kajian, yaitu pendalaman hakiki dari syari’ah (sareat), thariqah (tarekat), haqiqah (hakekat), dan ma’rifah (makrifat). 

Syari’ah atau Sareat

Adalah sisi kajian yang membahas mengenai dimensi kejasadan manusia berdasarkan apa yang dapat dicapai oleh indera jasadi.

Thariqah atau Tarekat

Adalah sisi kajian yang membahas mengenai dimensi perjalanan manusia dalam menempuh suluk, riyadhah, khalwat, mujahadah, wirid, semedi, bertapa, dan lain-lain. Dimana lelaku tersebut bertujuan untuk lebih mengenai dirinya dan pencipta-Nya.

Haqiqah atau Hakekat atau Hakikat

Adalah sisi kajian yang membahas mengenai dimensi terdalam dari tiap keberadaan yang ada di semesta ini. Baik keberadaan jasadi maupun keberadaan ruhani. Dalam kajian inilah usaha-usaha untuk menghidupkan indera ruhani dimulai dan kemudian dikembangkan.

Ma’rifah atau Makrifat

Adalah sisi kajian yang membahas mengenai penyatuan dari syari’ah, thariqah, dan haqiqah. Dimana ketika penyatuan ini berhasil dan kemudian menjadi mapan, maka terjadilah kelahiran kedua bagi manusia setelah kelahiran pertamanya (kelahiran dari rahim ibu ke dunia).

Saya ambil contoh beberapa kajian tasawuf yang ada dalam kitab Futuhat Al-makiyah karya Ibn ‘Arabi dan Ihya ‘Ullumudin karya Al-ghazali. Yang saya kira cukup untuk menjadi gambaran mengenai apa saja yang dikaji dalam ilmu tasawuf.

Dalam kitab Futuhat, dikaji mengenai makrifat huruf, martabat huruf, makrifat permulaan bentuk tubuh manusia, makrifat bumi, makrifat ruh, makrifat wujud durratul mulk, makrifat pembawa arasy, makrifat zaman, makrifat qiyamah, asrar thaharah, makrifat asrar shalat, dan lain-lain.

Dikaji juga mengenai jumlah tempat-tempat para wali, sifat Adam, makrifat taubat, makrifat mujahadah, makrifat khalwat, makrifat taqwa, makrifat takut pada neraka, makrifat yang fardhu dan yang sunnah, dan lain-lain.

Dibahas juga mengenai bentuk arsy dan kursyi, tanah mahsyar, jahanam dan pintu-pintunya, makrifat tempat turun Al-qur’an, tempat turun malaikat, makrifat Asmaul Husna, dan lain-lain.

Dalam Ihya dikaji mengenai, keutamaan ilmu, bagaimana sikap guru ke murid, bagaimana sikap murid ke guru, rahasia wudhu, rahasia shalat, rahasia zakat, rahasia haji, kitab tentang tipuan, kitab taubat, kitab syukur, kitab khauf dan raja’, kitab fakir dan zuhud, dan masih banyak lagi.

Selain dari kedua kitab di atas masih banyak kitab-kitab tasawuf lain dengan ragam variasi, kedalaman, kerumitan, dan jenis kajian yang berbeda.

Kitab-kitab Tasawuf

Berikut beberapa kitab karya para sufi yang dapat dibaca untuk dijadikan sebagai rujukan jika ingin mengkaji mengenai tasawuf. Di antaranya:

  • Futuhat Al-makiyah karya Ibn ‘Arabi
  • Rasa’il Ibn ‘Arabi, karya Ibn ‘Arabi
  • Fushush Al-hikam, karya Ibn ‘Arabi
  • Syarah Fushush Al-hikam, karya Sayyid Jalaludin Istisyayani
  • Anwarul Qudsiyah, karya Imam Al-‘alamah ‘Abdul Wahab Asy-sya’rani
  • Qutul Qulub, Abu Thalib Al-makiy
  • Ar-risalah Al-qusyairiyah, karya Imam Abi Qasim ‘Abdul Karim bin Hawazan Al-qusyairi
  • Ihya ‘Ullumuddin karya Al-ghazali
  • Awariful Ma’arif, karya Syaikh Al-isyraq As-suhrawardi
  • Hayakal An-nur, karya Syaikh Al-isyraq As-suhrawardi
  • Al-ghunyah, karya Syaikh ‘Abdul Qadir Al-jailani
  • Fathul Rabbani, karya Syaikh ‘Abdul Qadir Al-jailani
  • Tahdzibul Asrar, ‘Abdul Malik bin Muhammad bin Ibrahim An-naisaburi Al-kharkusi
  • Dzikru Niswah, karya Abi ‘Abdurrahman As-sulami
  • Hilyatul Auliya, karya Al-hafiz Abi Na’im Ahmad bin ‘Abdullah Al-isfahani Asy-syafi’i
  • Mantiqu Ath-thair, karya Farirudin Ath-thar An-naisaburi
  • Al-hikam, karya Ibn Athaillah As-sakandari
  • Dan masih banyak lagi.

Kesimpulan

Yang telah kita pelajari bersama bahwa kecerdasan-kecerdasan manusia berkembang dan saling bersatu padu dalam menyikapi sesuatu yang dapat mengganggu kesehatan tubuh jasadi mereka. Sekecil apapun itu.

Lalu bagaimana dengan sesuatu yang dapat  mengganggu kesehatan jasad ruhani, apakah kecerdasan-kecerdasan manusia juga menciptakan teknologi untuk menyikapinya ? Jawabannya adalah Ya. Manusia dengan kecerdasannya telah menciptakan suatu ilmu pengetahuan untuk menyikapi hal tersebut.

Ilmu pengetahuan itu dikenal dalam berbagai nama dan istilah sesuai dengan bahasa dan budaya dimana manusia menciptakan ilmu pengetahuan tersebut. Ilmu ini dikenal dengan sebutan tasawuf, hikmah, irfan, kabuhunan, kabuyutan, mysticism, spirituality, dll.

Kemudian telah kita ketahui secara mendasar mengenai tasawuf menurut bahasa dan menurut Istilah. Telah pula kita ketahui mengenai ragam mazhab dalam tasawuf, apa saja yang dipelajari dalam tasawuf, dan kitab apa saja yang dapat dirujuk.

Dengan segala kekurangan yang ada, semoga artikel ini bermanfaat bagi yang membutuhkan. Dapat menambah pengetahuan bagi yang belum tahu. Sebagai daras ulang bagi yang sudah tahu. Dan menjadi welas asih bagi yang telah sampai kepada maqam-nya.

Terimakasih telah berkunjung ke blog saya. Jika ada yang ingin disampaikan silahkan sampaikan di kolom komentar.  Saran dan opini yang membangun sangat saya apresiasi.

Salam damai selalu. Cheerss dan asy’ar bih… 


Sumber:

  1. The Vital Edge
  2. Ranker
  3. Al-maany
  4. Soufiyyah.org
  5. Shahih Muslim, Imam Muslim, Juz. 1, hlm. 39, hadits.9, Darul Ihya’ Turats ‘Arabi, Beirut.
  6. Fawzyabuzeid
  7. Islam.uga.edu
  8. Marefa.org
  9. Futuhat Al-makiyah, Ibn ‘Arabi, juz. 1-4
  10. Ihya ‘Ulumuddin, Al-ghazali, hlm. 1-1963, Darul Ibn Hazm, thn. 1426H/2005M